Makna Lagu Paris – The Chainsmokers. “Paris” yang rilis pada Januari 2017 menjadi salah satu lagu paling ikonik dari era keemasan duo produser asal New York. Dengan vokal lembut penyanyi wanita asal Amerika dan drop yang dreamy, lagu ini langsung melonjak ke posisi 6 di tangga lagu global dan bertahan berbulan-bulan di playlist. Sekilas terdengar seperti lagu romansa manis tentang kabur ke kota cinta, tapi semakin didengar, semakin jelas bahwa “Paris” bukan tentang tempat, melainkan tentang pelarian dari kenyataan yang sudah tidak lagi tertahankan. BERITA BASKET
Makna Sebenarnya di Balik Kata “Paris”: Makna Lagu Paris – The Chainsmokers
Paris di sini bukan kota di Prancis, melainkan simbol dari “mana saja selain di sini”. Lirik “We were staying in Paris / To get away from your parents” dan “If we go down, then we go down together” menggambarkan dua orang yang sama-sama tertekan oleh ekspektasi orang tua, karier, dan kehidupan nyata. Mereka tidak benar-benar pergi ke Paris, tapi berfantasi bersama tentang tempat di mana tidak ada yang mengenal mereka, tidak ada yang menuntut, dan mereka bisa jadi versi paling bebas dari diri sendiri—meski hanya sementara. Paris adalah metafora surga sementara yang mereka ciptakan berdua di tengah kekacauan.
Hubungan yang Toxic tapi Nyaman: Makna Lagu Paris – The Chainsmokers
Lagu ini juga jujur tentang dinamika hubungan yang tidak sehat namun sulit dilepaskan. Baris “You’re a summer girl, I wear you like a sweater in December” dan “We ain’t ever getting older” menunjukkan mereka saling memakai satu sama lain sebagai pelarian. Mereka tahu hubungan ini mungkin tidak akan bertahan lama, tapi tetap bertahan karena bersama-sama terasa lebih baik daripada sendirian menghadapi dunia. Frasa “If we go down, then we go down together” bukan janji romantis, melainkan perjanjian bunuh diri emosional: kalau harus hancur, setidaknya hancur berdua.
Resonansi dengan Generasi Millennial dan Z
Banyak pendengar muda langsung connect karena lagu ini menangkap perasaan “stuck” yang sangat khas era 2010-an akhir: tekanan finansial, ekspektasi orang tua, karier yang tidak pasti, dan keinginan kuat untuk kabur tanpa tahu ke mana. Paris jadi kota impian kolektif bagi mereka yang hanya mampu membukanya lewat layar ponsel. Tak heran kalau lagu ini sering dipakai sebagai backsound video couple yang pura-pura bahagia di rooftop atau saat liburan murah, padahal di dalam hati sama-sama tahu semuanya sementara.
Kesimpulan
“Paris” berhasil abadi karena ia tidak menjual mimpi sempurna, melainkan mimpi pelarian yang rapuh. Ia bicara tentang betapa manusia bisa saling mencintai bukan karena satu sama lain adalah yang terbaik, tapi karena saat itu mereka adalah satu-satunya tempat berlindung. Di tahun 2025, ketika tekanan hidup semakin berat dan kata “burnout” jadi bahasa sehari-hari, “Paris” masih terasa seperti pelukan hangat sekaligus tamparan pelan: kita semua pernah ingin kabur ke suatu tempat yang tidak nyata, bersama seseorang yang mungkin juga hanya numpang lewat. Dan terkadang, itu sudah cukup untuk tetap bertahan satu hari lagi.

